Mas mau tanya sesuatu ma adek nih
To : Mas Anjar
Aku baru kuliah, mas...aku pulangnya jam 6
ntar ke kos aja lo mau tanya...
Mas Anjar 0878XXXXXXXX
Iya, dek! ntar mas ke kos... ya.
Kuliah udah selesai, Icha langsung pulang ke kos. Dan ternyata, Anjar belum dateng. Ngga bakalan dateng tuh orang. Di kos...
"Dah pulang, Cha?" tanya Mbak Rosa.
"Udah Mbak, aku masuk ke kamar dulu ya? Mau ngerjain tugas." kata Icha sambil buka pintu kamar kos.
Icha langsung ganti celananya, terus ngerjain tugas. Dan ngga keluar dari kamar sama sekali
Ting tong...
Ada tamu, Jantri langsung buka pintunya. Paling-paling itu pacarnya Jantri. Tapi ternyata...
"Ichanya ada nggak?"
"Ichaaaa...!!! Dicari tuh sama temenmu...!!!" teriak Jantri.
"Siapa??" tanya Icha, sambil jalan ke ruang tamu. Ternyata, Anjar sama Aji.
"Eh, Mas Anjar? Ada Aji juga masuk yuk!" kata Icha. Lalu Anjar sama Aji masuk ke kos, mereka ngobrol sama bercanda sampe jam 21.00.
"Dek, udah maem belum?" tanya Anjar.
"Belum, Mas. Mas laper? Aji laper juga?" tanya Icha.
"Iya,Cha!" jawab mereka berdua bersamaan.
Lalu, Icha, Anjar, sama Aji pergi ke angkringan deket kos Icha. Mereka makan di situ. Ya, ujung-ujungnya Icha yang bayarin. Tapi emang dasarnya Icha udah biasa sih.
"Dek, main keluar yuk!" ajak Anjar.
"Main ke mana, Mas?" tanya Icha.
"Terserah kamu, Dek! Enaknya ke mana, Ji?"
"Terserah lu, Njar! Gue mah ngikut aja!"
"Gimana, lo ke GSP. Deket kok dari sini, lo malem tempatnya bagus."
"Ya udah ayo, kita ngambil motor di kosmu dulu." ajak Aji.
Mereka bertiga jalan ke kos buat ngambil motor. Icha juga masih ganti baju juga.
Di GSP...
"Cha, fotoin gue, donk!" kata Aji. Anjar diem aja sambil ngeliatin sekeliling GSP.
"Ih, gue ngga bawa kamera, Ji! Lu nya juga narsis amat." kata Icha sambil ngeledek.
"Ya Allah, Cha! Gitu amat sih ma gue. Pake hape donk!"
"Iya, Ji! Iya, Ji! Iyaaa! Maksa amat sih" kata Icha. Icha memfoto Aji, dan tiba-tiba Anjar memeluk Icha dari belakang. Icha berasa ada yang aneh dengan Anjar.
Jam udah nunjukin pukul 00:00...
"Ji, lu mau tidur di mana?" tanya Anjar.
"Gue ngga tau, Njar. Lha lu gimana?" tanya Aji balik.
"SMS si Dio sih!" kata Icha. Aji langsung SMS Dio. Sementara Anjar masih mikir gimana solusinya.
"Lo nginep di kosnya Icha gimana, Ji? Boleh ngga dek?" tanya Anjar.
"Wooo wait, aku ngga berani Mas. Bukannya gimana gimana sih Mas, tapi aku-nya takut lo ketahuan." jawab Icha.
"Njar, Dio di kos nih. Gimana?"
"Ya udah lu aja, Ji yang tidur disitu. Gue mah gampang, gue mau keliling Jogja sama si Icha."
Lalu mereka pergi, dan berpisah di perempatan Gejayan, yang dikira Anjar perempatan Condong Catur. (bego amat ni orang). Anjar dan Icha pergi keliling Jogja. Di jalan, Anjar cerita tentang pacarnya Anna sama Icha. Jam nunjukin pukul 01:00. Dan Icha mulai ngantuk, sampai-sampai mau jatuh dari motor.
"Kamu ngantuk, dek?" tanya Anjar.
"Eh, iya Mas. Hoooaaaah!" jawab Icha sambil menguap.
"Pulang aja, yuk!" ajak Anjar.
"Lho, ntar Mas tidur di mana?"
"Di kos adek, donk. Ngga apa-apa, kan?"
"Iya, ngga apa-apa. Ntar aku tidur di kamar Jantri."
"Kok gitu, mas ntar sendiri, donk!"
"Ya liat ntar aja, deh!"
Lalu mereka pulang ke kosannya Icha. Di kos, Icha ganti baju di kamar mandi. Sedangkan Anjar masih nunggu Icha bukain pintu. Icha buka pintu yang biasa buat masukin motor, lalu Anjar masuk tanpa sepengetahuan temen-temennya Icha. Kemudian, dia masuk ke kamar Icha diikuti Icha.
Icha langsung tidur di kasurnya, Icha mengira kalau Anjar bakal tidur di bawah ternyata nggak. Anjar malah ikut tidur di kasurnya Icha, dan meluk Icha dari belakang. Icha berusaha ngelepasin diri dari Anjar. Tapi sayang tubuh Icha terlalu kecil. Anjar berusaha nenangin Icha. Icha diam dan mulai tertidur.
Anjar mulai berkelakuan aneh, lalu Icha sadar dan mulai berontak lagi. Icha dan Anjar bangun. Anjar melihat Icha menangis.
"Aku ngga mau, Mas! Jangan kayak gitu, aku ngga mau!" kata Icha sambil menangis.
"Iya, dek! Adek kangen kan sama Mas? Peluk Mas, Dek!" kata Anjar.
Kemudian Anjar memeluk Icha. Icha juga memeluk Anjar. Tanpa disadari oleh Icha, Anjar melepas tali (sensor) Icha dan kemudian menidurkan Icha. Icha berusaha agar bisa lepas dari Anjar, tapi Anjar memegang tangan Icha dengan kuat.
"Mas, aku ngga mau! Mas lepasin...! Jantriiii....!!!!!" teriak Icha. Anjar langsung bingung dan ngelepasin Icha. Icha langsung lari keluar kamar. Sepi, semua udah tertidur.
"Nggak, Dek! Mas janji nggak bakal kayak gitu. Mas janji dek!" kata Anjar. Icha hanya diam sambil geleng-geleng kepala, Icha langsung masuk ke kamarnya Jantri.
"Kenapa, Cha? Mimpi buruk lagi?" tanya Jantri.
"Iya, nih! Aku tidur sini ya??" kata Icha yang masih deg-degan.
Icha berusaha menyembunyikan kejadian itu tadi agar tidak ada yang tahu. Sementara Anjar masih bingung mencari cara agar bisa keluar dari kosnya Icha. Secara, pintunya di kunci sama Icha. Icha setengah tertidur. Dia denger si Anjar buka pintu, entah itu pintu mana. Icha tidak bisa tidur. Saat Jantri tertidur, Icha keluar dan memberanikan diri untuk keluar dari kamar Jantri. Icha masuk ke kamarnya sambil menendang pintu kamarnya. Takut kalau-kalau si Anjar bersembunyi dibalik pintu. Icha mengambil hapenya yang dari tadi getar. Ternyata telpon dari Anjar. Icha mengangkatnya.
"Halo, Dek Icha?" tanya Anjar.
"Iya ini aku!" jawab Icha.
"Dek, maafin mas ya? Mas khilaf, Mas ngga bisa nahan nafsu setan itu. Mas minta maaf yang sebesar-besarnya sama adek. Terserah mau maafin Mas apa ngga. Mas bener-bener nyesel, Dek!
"Iya, aku maafin. Tapi napa Mas kayak gitu sama aku? Mas tu harusnya ngejagain aku bukan giniin aku. Aku butuh bukti lo Mas emang nyesel."
"Maafin Mas, Dek! Mas khilaf, Iya Mas bakal ngejagain adek! Mas janji ngga bakal ngulanginnya lagi,Dek! Mas harus gimana biar bisa bikin adek percaya lo Mas nyesel."
"Oke, Mas lari muter GSP 10x ntar jam 05:00, gimana?"
"Iya, napa ngga sekarang aja, Dek?"
"Nggak mau masih jam segini juga, ntar jam 04:00!"
"Iya udah Mas tunggu."
"Iya..."
Icha langsung menutup telponnya, dan menunggu jam 04:00 pagi. Dia masih nggak percaya, orang yang dia anggap kakak, dan dipercaya oleh pacar Icha untuk menjaga Icha malah melakukan hal seperti itu pada Icha.
Jam sudah menunjukkan pukul 04:00 pagi, Icha langsung ganti baju dan memakai jaket, kemudian mengeluarkan motor, lalu mencari-cari Anjar di sekitar Wisma deket kos Icha. Icha melihat Anjar tidur di becak. Lalu Icha menghampiri becak itu dan membangunkan Anjar.
"Mas... Mas...??" panggil Icha sambil menggoyang-goyangkan becaknya. Anjar terbangun dan melihat Icha, lalu dia turun dari becak dan naik ke motornya Icha. Icha langsung tancap gas ke GSP. Sesampainya di GSP, Anjar turun dengan keadaan setengah sadar. Dia melihat ke arah Icha. Icha masih agak ketakutan.
"Buruan lari!" bentak Icha. Icha masih marah pada Anjar.
"Iya, bentar, Dek! Mas masih ngumpulin nyawa dulu." jawab Anjar. Kemudian Anjar lari keliling GSP. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali. Icha ikut lari nemenin Anjar. Dan yang ke enam kali. Icha mencari-cari Anjar. Dan ternyata, Anjar pingsan.
"Mas Anjar, Mas!! Mas Anjar... bangun Mas!" kata Icha, sambil mengangkat kepala Anjar untuk diletakkan di atas pangkuannya.
"Mas Anjar, maafin aku. Aku ngga bermaksud bikin Mas kayak gini!" lanjut Icha sambil nangis. Icha khawatir kalau Anjar kenapa-napa. Sampai-sampai Icha mencium kening Anjar. Tidak beberapa lama kemudian, Anjar sadar, lalu Anjar memegang pipi Icha, dan berkata, "Maafin, Mas ya Dek! Mas khilaf, Mas janji ngga bakal ngulanginnya lagi."
"Iya, Mas! Maafin aku juga ya Mas! Aku tadi emosi banget!" kata Icha, masih nangis.
"Jangan nangis, Dek!Mas nggak kenapa-napa,kok!" kata Anjar sambil ngusap air mata Icha. Icha ngusap-usap kening Anjar. Nggak beberapa lama kemudian ada orang lewat.
"Maaf, Mbak! Ini Masnya kenapa?" kata seorang bapak-bapak.
Icha dan Anjar saling melihat, dan berkata, "Pingsan, Pak!"
"Oh, ya! Sebentar ya Mbak saya cari bantuan dulu!" kata bapak-bapak itu.
"Iya, Pak!" jawab Icha. Bapak- bapak itu kemudian pergi mencari bantuan. Icha masih mengusap-usap kening Anjar. Anjar hanya diam saja melihat Icha.
"Maaf, Mbak bagaimana kalau Masnya dibawa ke rumah sakit." tanya seorang satpam.
"Enggak usah, Pak!" kata Anjar.
"Bawa aja, Pak! Takutnya kalau kenapa." kata Icha.
"Mbak, masih kuat naik motor kan?"
"Masih, Pak!" jawab Icha.
Lalu, Satpam dan bapak-bapak itu membawa Anjar ke rumah sakit pakai mobil patroli. (Adanya sih, sama yang muat sama tubuhnya Anjar). Sedangkan Icha mengurus administrasi dan membayar biaya rumah sakit. (Tekor donk).
"Gimana, Mas? Udah baikan?" tanya Icha sambil duduk.
"Iya, Dek! Makasih ya?" kata Anjar. Lalu Icha nyandarin kepalanya di atas tangan kanannya Anjar. Kemudian Anjar mengusap kepala Icha.
"Bangunin aku jam 06:00 ya, Mas? Ntar aku mau berangkat kuliah." kata Icha yang kemudian tidur di tangan kanannya Anjar. Anjar masih saja mengusap-usap kepala Icha, sampai Icha tertidur.
Jam di HP Anjar udah nunjukin pukul 06:00. Anjar bangunin Icha, dan kemudian melepas selang oksigen yang dipasang di hidungnya.
"Dek, bangun, Dek! Dek Icha, ayo pulang!" kata Anjar sambil bangunin Icha.
"Engh...Iya Mas!" Icha bangun. Anjar pun tersenyum melihat muka Icha yang masih lemes dan ngantuk. Lalu Anjar mencubit hidung Icha.
"Ihh... Ayo adek mas bangun sih, katanya mau kuliah!"
"Aaaaa sakit, Mas! Adududuh! Iya ini bangun kok bangun!" Suster yang melihat tingkah Anjar dan Icha langsung pada ketawa. Anjar turun dari kasur dan ternyata jalannya masih sempoyongan. Icha menuntun Anjar, kemudian mereka pulang ke kos Icha.
Di Kosan Icha...
"Lho Cha? Kamu dari mana? Kok ada Anjar juga?" tanya Jantri.
"Engg ceritanya panjang, Jan! Mas Anjar tidur di kamarku dulu aja. Aku tinggal kuliah ngga apa-apa kan?" jawab Icha.
"Nggak apa-apa, Dek! Adek nggak ngantuk apa kok mau kuliah?" tanya Anjar, yang langsung tiduran di kasur Icha.
"Nggak kok, Kak! Aku mandi terus kuliah dulu, ya?"
"Iya, hati-hati, ya Dek!"
Di Kampus
(Dalam hati Icha berkata) "Mampus gue, ngantuk berat ini mah, Ya Allah!"
Saking ngantuknya, buku Icha sampai jatuh. Untung saja kuliahnya cuma sebentar. Jadi Icha bisa langsung pulang ke kos.
Di Kosan Icha...
"Lho Aji?" kata Icha. Aji sudah di depan kos mencari Anjar.
"Pulang kuliah, Cha? Anjar mana?" tanya Aji.
"Mas Anjar tidur, Ji! Yuk masuk." Icha langsung masuk ke kamar. "Mas agak sonoan sih! Aku mau tidur!" kata Icha. Icha langsung tidur, Icha nggak peduli apa tanggapan temen-temennya di luar. Icha capek dan pengen tidur.
"Sini Mas peluk, Dek!" kata Anjar. Icha diam saja. Aji malah baca novel yang ada di kamar Icha.
Tepat jam 12:00, Anjar dan Aji pulang.
"Mas pulang dulu ya, Dek?" kata Anjar sambil mencium kening Icha.
"Iya, Mas! Hati-hati, ya?" jawab Icha sambil salaman dan mencium tangan Anjar.
"Gue pulang dulu ya, Cha?" kata Aji.
"Iya, Ji! Hati-hati, ya?"
"Eh, tunggu bentar!" kata Anjar.
"Apa, Mas? Ada yang ketinggalan?" tanya Icha.
"Iya, nih!" kata Anjar sambil nyubit hidung Icha.
"Aaaaaa sakit, Mas! Sakit!" kata Icha sambil memegang hidungnya.
Lalu Anjar dan Aji pulang. Icha langsung bersiap-siap buat kuliah lagi. Saat kuliah Icha menceritakan kejadian semalam kepada temennya yang bernama Siska. Icha nggak bisa memendam cerita itu sendiri. Dia butuh orang yang bisa mengerti keadaannya.
Hubungan Icha dengan Anjar baik-baik saja mereka berdua merahasiakan kejadian itu dari pacar mereka.
THE END